Senin, 23 Februari 2026

Pandangan Moderat Seorang ASN terhadap Perbedaan Penetapan Awal Puasa 2026



Penetapan awal bulan Ramadan tahun 2026 kembali menampilkan perbedaan antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan Islam, khususnya Muhammadiyah. Perbedaan ini bukanlah hal baru dalam kehidupan beragama di Indonesia, melainkan dinamika yang telah berlangsung sejak lama akibat perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah. Dalam konteks ini, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) dituntut memiliki sikap moderat, bijak, dan mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman pandangan.

Perbedaan sebagai Keniscayaan Ilmiah dan Fikih

Perbedaan penetapan awal puasa pada dasarnya bersumber dari metode yang digunakan. Pemerintah Indonesia menggunakan metode rukyat (pengamatan hilal) yang dipadukan dengan hisab, sedangkan Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal. Kedua metode ini memiliki landasan ilmiah dan dalil fikih masing-masing yang diakui dalam khazanah keilmuan Islam.

Sebagai ASN, penting untuk memahami bahwa perbedaan ini bukanlah pertentangan akidah, melainkan perbedaan ijtihad ulama. Oleh karena itu, tidak tepat jika perbedaan tersebut dijadikan bahan perdebatan yang memicu perpecahan di masyarakat.

Netralitas dan Keteladanan ASN

ASN adalah pelayan publik yang harus bersikap netral, tidak memihak kelompok tertentu, serta mengedepankan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan. Dalam konteks perbedaan awal puasa, ASN seharusnya menjadi teladan dalam menjaga kerukunan.

Sikap moderat dapat diwujudkan melalui:

  • Menghormati keputusan pemerintah sebagai otoritas resmi negara

  • Menghargai pilihan warga yang mengikuti organisasi keagamaan masing-masing

  • Tidak menyebarkan ujaran provokatif atau merendahkan pihak lain

  • Mengedepankan persatuan dan toleransi

Keteladanan ini sangat penting karena ASN sering menjadi rujukan masyarakat dalam bersikap.

Moderasi Beragama sebagai Landasan

Indonesia dikenal sebagai negara yang menjunjung tinggi moderasi beragama, yaitu cara beragama yang adil, seimbang, dan tidak ekstrem. Moderasi bukan berarti mencampuradukkan ajaran, tetapi menghargai perbedaan tanpa kehilangan keyakinan pribadi.

Dalam situasi perbedaan awal Ramadan, moderasi beragama mendorong setiap individu untuk:

  • Tetap khusyuk beribadah sesuai keyakinan

  • Tidak memaksakan pendapat kepada orang lain

  • Menjaga ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim)

  • Memelihara ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan)

Peran ASN dalam Menjaga Harmoni Sosial

ASN memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga stabilitas sosial. Di tengah masyarakat yang beragam, sikap bijak ASN dapat meredam potensi konflik dan kesalahpahaman.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Memberikan edukasi bahwa perbedaan adalah hal wajar

  2. Mengajak masyarakat fokus pada esensi Ramadan: meningkatkan iman dan takwa

  3. Mendukung kegiatan keagamaan tanpa diskriminasi

  4. Menjaga komunikasi yang santun di ruang publik maupun media sosial

Penutup

Perbedaan penetapan awal puasa Ramadan 2026 hendaknya disikapi dengan kedewasaan dan kebijaksanaan. Bagi seorang ASN, sikap moderat bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban moral dan profesional. Dengan menghormati perbedaan, menjaga netralitas, serta mengedepankan persatuan, ASN dapat menjadi perekat bangsa dan teladan dalam kehidupan beragama yang damai.

Pada akhirnya, Ramadan adalah momentum memperkuat keimanan, kepedulian sosial, dan persaudaraan. Perbedaan awal puasa tidak seharusnya mengurangi makna suci bulan tersebut, melainkan menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah bagian dari rahmat yang harus disikapi dengan kebijaksanaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Antara Amanah, Syukur, dan Hubbul Wathan

Pernyataan seorang intelektual yang dibiayai oleh pajak rakyat namun mengekspresikan keengganan agar keturunannya menjadi bagian dari bangsa...